HACKED BY 1337


Muara

deskripsi singkat

Kata muara diartikan sebagai ‘tempat kesampaian’ dari daerah Sabulan “sebelah sana” dari tiga kelompok marga besar yaitu marga Simatupang, Aritonang, dan Siregar yang menjadi penghuni lebih dominan di Kecamatan Muara dari dahulu sampai sekarang. Dahulu memang ada Bius Silima Ompu di Muara yang terdiri atas marga Simatupang, Aritonang, Siregar, Sinaga, dan Situmorang yang mendakan bahwa kelima marga itu merupakan penghuni Muara sejak dulu. Bahkan, tujuh keturunan Si Raja Lontung dengan sebutan Sipitu Ama “tujuh keturunan dari satu ayah” ada di Muara termasuk Pandiangan dan Nainggolan. Mata pencaharian utama penduduk di Muara adalah bertani dengan menangkap ikan dan bertenun sebagai mata pencaharian tambahan bagi sebagian penduduk. Mereka bertani sawah untuk menghasilkan padi dan bertani ladang seperti mangga, jagung, dan kopi. Muara terkenal sebagai penghasil mangga yang manis-manis. Salah satu tanaman khas di Muara adalah pohon bagot ‘enau’ yang tumbuh subur di lembah Muara, tetapi masih terbatas sebagai konsumsi nira untuk masyarakat setempat. Lembah Muara sangat indah dipandang dari atas seperti dari Tapian Nauli sehingga ada ungkapan Muara Nauli, ‘muara yang indah’ bagi masyarakat sekitarnya. Keindahan Muara tidak terlepas dari bentukan letusan Gunung Toba yang maha dahsyat sehingga pantaslah Muara ditetapkan menjadi satu geosite di kawasan Danau Toba, yang terkenal dengan dacitic lava dome ‘endapan kubah lava dasitik’ hasil erupsi supervolcano Gunung Toba. Dengan fasilitas perjalanan darat dan kapal, Muara bisa dijangkau dengan mudah untuk menikmati keindahan panorama di lembah Muara dan pinggiran Danau Toba. Kepariwisataan Muara bisa terintegrasi dengan destinasi wisata Bakara dan Tipang sebagai daerah yang berbatasan karena telah didukung akses jalan dan alat transportasi yang sudah tersedia. Selain keindahan alam, Muara juga terkenal sebagai sentra partonun yang menghasilkan jenis ulos harungguan ‘ulos yang dikenakan para raja’ yakni di Desa Silali Toruan, Lontung dan di Desa Huta Nagodang. Kepariwisataan di Muara ini didukung oleh berdirinya sanggar-sanggar seni dan pokdarwis (kelompok sadar wisata) yang berkaloborasi dengan pemerintah dan kelompok masyarakat. Akivitas penggalian tradisi zaman dahulu seperti ritual matumona ‘syukuran hasil pertanian’, mangebang solu ‘parade dengan perahu’, manggombur ‘ritual meminta hujan’, dan ritual bius sudah diprogramkan menjadi kegiatan tahunan di Kecamatan Muara. Saat ini kekayaan budaya dan panorama alam di Muara telah menjadi destinasi wisata yang diminati oleh para wisatawan. Masih banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Masyarakat dan pemerintah perlu terus bersinergi dalam menjaga kelestarian alam dan budaya sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.