Bakara

deskripsi singkat

Bakara adalah sebuah wilayah historis pinggiran Danau Toba yang terdapat di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Bakara kadang-kadang ditulis Bangkara atau Bakkara, namun semuanya itu merujuk pada tempat yang sama. Wilayah Bakara memiliki enam desa yaitu Desa Siunong-Unong Julu, Desa Simamora, Desa Simangulampe, Desa Sinambela, Desa Marbun Toruan, dan Desa Marbun Dolok Marbun Toruan. Desa Bakara terdapat organisasi lokal yang disebut Bius Sionom Ompu ‘Kampun Enama Marga’. Bius Sionom Ompu berperan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat di wilayah Bakara. Bius Sionom Ompu tersebut terdiri atas keturunan marga Bakara, Sinambela, Sihite, Simanullang, Simamora, dan Marbun. Terdapat perumpaan dalam bahasa Batak Toba yang menggambarkan Bakara ini, yakni: “Tano Bakara, Na mardingdinghon dolok, marhirehirehon ombun, maralamanhon Tao Toba” ‘Tanah Bakkara berdingding bukit, bertiraikan embun, dan berhalamankan Danau Toba’. Bakara merupakan lembah yang indah sebagai bentukan alami letusan Gunung Toba. Secara geologis, bebatuan yang terdapat di perbukitan lembah Bakara adalah bebatuan hasil letusan Supervolcano Toba 74.000 tahun yang lalu, sedangkan bebatuan metasedimen yang terdapat di sekitaran Desa Siunongunong Julu berusia sekitar 200.000 tahun yang lalu. Di lokasi Tombak Sulusulu terdapat batuan dasar Danau Toba berusia sekitar 250 juta tahun yang lalu. Mata Air Aek Sipangolu dan Mata Air Aek Sitiotio adalah mata air yang keluar dari hasil letusan Supervolcano Toba 800.000 tahun yang lalu. Peristiwa geologis itulah yang menyebabkan bahwa Bakara ditetapkan oleh Unesco sebagai salah satu geosite di Taman Bumi Kaldera Toba (Toba Caldera Geopark). Saat ini, wilayah Bakara adalah salah satu pusat pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Humbang Hasundutan. Ada berbagai berbagai potensi keunikan geologis, keanekaragaman hayati, dan keanekragaman budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai potensi destinasi wisata di Bakara. Potensi wisata yang ada di Bakara adalah Lembah Bakara, Istana Raja Sisingamangaraja, Sumur Raja Sisingamangaraja, Hariara Tunghot, Batu Hundulhundulan, Aek Sipangolu, Aek Sitiotio, Tombak Sulusulu, Tombak Hatuaan (Inganan Pangidoan Asiasi), Sungai Aek Silang, dan Simangira (lokasi Arung Jeram). Potensi pertanian yang ada di Bakara yakni pertanian padi, bawang merah, manggga, ihan Batak, dan sebagainya. Aktivitas kepariwisataan di daerah Bakara sudah semakin ramai khususnya di saat akhir pekan dan musim libur. Di samping potensi wisatanya yang sangat layak untuk dikembangkan dan dipromosikan, terdapat juga sarana pendukung kepariwisataan di sana seperti hotel, restoran, homestay, bank, toilet umum, pelabuhan, dan “pertamina kecil” untuk bahan bakar kenderaan. Di Bakara terdapat dua aliran sungai yakni Aek Silang dan Aek Simangira yang sudah difungsikan sebagai sarana arung jeram dan tubing “rekreasi air dengan naik ban” untuk mendukung aktivitas pariwisata di Humbang Hasundutan. Potensi arung jeram ini sangat unik dan mengasyikkan karena langsung bermuara ke Danau Toba. Pembangunan dan pengembangan kepariwisataan di wilayah Bakara ini ditujukan untuk peningkatan perekonomian masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian alam dan budaya. Bakara adalah wilayah historis dan legendaris karena Bakara ini merupakan kampung halaman sebagai asal Raja Sisingamangaraja I hingga Raja Sisingamangaraja XII. Seperti kita ketahui bersama, Raja Sisingamangaraja XII adalah seorang tokoh pejuang yang telah ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. Begitu masuk ke Bakara, orang langsung menemui Istana Sisingamangaraja di sebelah kanan jalan.