Tipang

deskripsi singkat

Setelah melewati Bakara, pengunjung memasuki wilayah Tipang yang juga di pinggiran Danau Toba. Tipang merupakan sebuah desa yang tergolong luas dan indah mulai dari garis pantai pinggir Danau Toba hingga ke lereng gunung. Keindahan Desa Tipang merupakan bentukan dari letusan Supervolcano Toba sehingga cocoklah bahwa Tipang merupakan bagian dari salah satu geosite Kaldera Toba. Potensi geopark yang unik dan menawan terdapat di Tipang seperti Air Terjun Janji, Air Terjun Sipultak Hoda (Sigotagota), Pulau Sihombing, dan Pulau Simamora. Menurut para ahli geologi, Air Terjun Janji dan Sipultak Hoda (Sigotagota) adalah mata air yang terjadi akibat letusan Supervolcano Toba 74.000 tahun yang lalu. Pulau Simamora adalah pulau yang terbentuk dari abu hasil letusan Supervolcano Toba 800.000 tahun yang lalu. Desa Tipang merupakan lembah beriklim tropis dengan lahan yang subur dan pada umumnya masyarakatnya hidup sebagai petani sawah untuk menghasilkan padi, tetapi ada juga tambahan mata pencaharian bertani lading seperti kopi, aren, dan mangga. Sebelum mengenal kata Tipang, konon dulunya wilayah ini disebut dengan Siamak Pandan yakni mengikuti nama putri Siraja Lontung yang diperistri oleh Siraja Sumba. Pada masa mudanya, Raja Sumba pergi berkelana menyusuri wilayah Ulu Darat dan bertemu Siboru Pandan Nauli (Si Amak Pandan), Putri dari Raja Lontung yang belakangan menjadi isterinya. Setelah menikah, Raja Sumba menerima pemberian Raja Lontung berupa sebidang tanah di dataran tinggi yang saat ini disebut Nahornop Tipang. Tanah pemberian tersebut memiliki pembatas alami berupa sungai yakni Sipultak Hoda atau Sigotagota. Sungai Sipultak Hoda bermuara di sebuah lembah subur, yang kemudian dikenal sebagai Desa Tipang. Sebelum masa kemerdekaan, Desa Tipang juga dahulu disebut Bius Tipang ‘Desa Tipang’ karena bius berarti ‘desa’ atau kadang-kadang disebut Bius Sipitu Marga ‘desa tujuh marga’ karena penghuni awal sebagai sipungka huta ‘pembuka kampung’ di Tipang ada tujuh marga dari keturunan Raja Sumba dengan dua anaknya yakni Toga Simamora dan Toga Sihombing. Toga Simamora memiliki tiga anak yaitu Purba, Manalu, dan Debararaja dan Toga Sihombing memiliki empat anak yaitu Silaban, Lumbantoruan, Nababan, Hutasoit. Hingga sekarang, ketujuh marga itu mengakui bahwa nenek moyang mereka berasal dari Tipang. Bius Tipang atau Bius Sipitu Marga dipimpin oleh duet Raja Bius yang dipilih secara primus inter pares “tertua dari yang sederajat” 1 orang dari anak tertua Toga Simamora yaitu Purba yang dinamai Parsanggul Baringin dan 1 orang dari anak tertua Toga Sihombing yaitu Silaban. Raja Bius berperan untuk mengatur semua urusan bius ‘desa’ termasuk pertanian, adat-istiadat, dan pemerintahan desa. Bius juga memiliki Raja Jolo Sihali Aek “tokoh pekerja irigasi”. Namun, setelah Indonesia merdeka dengan adanya Kepala Kampung atau Kepala Desa, Raja Bius cenderung menangani adat-istiadat sehingga lebih tepat disebut dengan “raja adat”. Raja Bius di Tipang sekarang ini disebut Raja Napitu ‘raja yang tujuh’ yang menangani adat-istiadat di sebagian wilayah Tipang dan ini merupakan kelanjutan dari Raja Bius Sipitu Marga. Kemudian, muncul Raja Naualu ‘raja yang delapan’ yang mengurusi adat-istiadat di sebagian wilayah Tipang dengan menambahkan boru ‘pihak penerima istri’ yang telah lama bermukin di Desa Tipang (Pasaribu dan Rajagukguk). Dengan demikian, Raja Napitu dan Raja Naualu adalah dua kelompok yang khusus mengurusi pelaksanaan adat dalam dua pembagian di wilayah Tipang, sedangkan Bius Sipitu Marga mengindikasikan bahwa Tipang adalah asal dari tujuh marga dan merekalah sipungka huta ‘pembuka kampung’ dan penduduk asli di Desa Tipang. Di Desa Tipang terdapat berbagai warisan budaya yang dapat disaksikan hingga saat ini baik yang berwujud benda maupun takbenda. Warisan berwujud benda seperti: sarcophagus, perkampungan tua, homban ‘mata air/sumur’, toguan ‘tempat bermusyawarah’, batu siungkapungkapon “wadah sebagai petunjuk penentuan benih padi”, batu siboru gabe, batu si Boru Torop, batu Si Boru Sinur yang dianggap sebagai pauseang ‘pemberian’ dari Siraja Lontung kepada Siraja Sumba. Warisan takbenda yaitu tradisi-tradisi yang masih berlangsung di masyarakat seperti: Tradisi marsirimpa ‘gotong–royong’, mangan indahan siporhis ‘ritual makan nasi berbumbu’, pelaksanaan adat-istiadat, dan tradisi sihali aek ‘pekerja irigasi’. Saat ini potensi geopark dan kekayaan budaya yang ada di Desa Tipang tersebut menjadi potensi wisata yang diminati oleh para wisatawan. Masyarakat dan Pemerintah saling menopang untuk pembangunan dan pengembangan kepariwisataan disana. Potensi wisata yang baru dikembangkan adalah potensi wisata alam Bukit Batu Maranak dan Panorama Alam Gonting. Pada tahun 2018 yang lalu, Panorama Alam Gonting menjadi lokasi Launching Pilot Project Homestay dan Tourist Guide oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan beberapa menteri lainnya. Saat ini, di Desa Tipang telah berdiri beberapa usaha kepariwisataan, organisasi kepariwisataan dan budaya, dan sanggar seni budaya. Pengembangan kepariwisataan di Desa Tipang ini tetap menjaga kelestarian alam dan budaya dan bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Bakara dengan enam desa dan Desa Tipang merupakan tujuh desa di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Pada waktu proses pengusulan pembentukan Kecamatan Baktiraja, akronim Baktiraja dimaksudkan sebagai kependekan Bakara-Tipang-Janjiraja karena pada saati itu Desa Janjiraja yang masuk dalam Kabupaten Samosir diajak dan diprediksi bisa masuk menjadi bagian dari Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbaang Hasundutan. Akan tetapi, dalam perjalanannya, Desa Janjiraja tidak ikut dalam bagian dari Kecamatan Baktiraja. Namun demikian, akronim Baktiraja kemudian dimaknai sebagai kependekan dari “Bakara-Tipang Haroroan ni Raja” dengan pengertian bahwa Raja Sisingamangaraja berasal dari Bakara. Dengan demikian, Kecamatan Baktiraja yang meliputi Bakara dan Tipang berada di pinggir Danau Toba yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Samosir. Bakara berbatasan dengan Muara sebagai bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara dan Tipang berbatasan dengan Janjiraja yang merupakan bagian dari Kabupaten Samosir.