Tele

deskripsi singkat

Tele merupakan salah satu wilayah hutan dataran tinggi yang ditetapkan sebagai salah satu geosite Kaldera Toba yang secara administratif berada di Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir. Meskipun termasuk bagian dari Kabupaten Samosir, Tele bukan berada di Pulau Samosir, melainkan berada di Pulau Sumatera. Di Tele terkenal dengan jalan berkelok-kelok yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Samosir. Panjang jalan yang berkelok-kelok ini sekitar 12 kilometer. Tele yang terletak di dataran tinggi Sumatera ini tingginya hampir menyamai sebuah bukit yang berada di depannya yaitu Pusuk Buhit dengan ketinggian 1972 meter di atas permukaan laut. Tele merupakan salah satu kawasan terpenting di Kawasan Danau Toba (KDT). Hutan dan tebing-tebing yang curam ditemukan di sekitarnya. Selain lingkungannya, Tele menjadi salah satu daya tarik utama Kawasan Danau Toba yang dikenal dengan Menara Pandang Tele. Pengunjung dapat menikmati pemandangan Danau Toba dan beberapa desa di bawahnya. Tele sudah sejak lama dijadikan sebagai tempat peristirahatan para wisatawan yang ingin berkunjung ke Pulau Samosir. Berbicara tentang Tele, tidak terlepas dari keberadaan Tano Ponggol. Tano Ponggol adalah ujung Jalan Tele. Tano Ponggol ini penting karena merupakan kanal yang memisahkan daratan Sumatera dan Pulau Samosir. Inilah sebabnya mengapa disebut tano ponggol, yang berarti ‘tanah patah’. Tano Ponggol yang kemudian disebut Terusan Tano Ponggol dibangun tahun 1906 pada masa penjajahan Belanda. Samosir merupakan bagian dari Keresidenan Tapanuli yang dipimpin oleh Louis Couperus Welsink. Pada tahun yang sama, Vilsink memerintahkan tentara Belanda di Tapanuli memanggil pekerja untuk menggali area dengan panjang 1,5 kilometer dan lebar 5 meter. Kanal ini dibangun untuk membuat jalan masuk yang menghubungkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera. Pemerintah Hindia Belanda meresmikan Terusan Tano Ponggol tahun 1913. Terusan Tano Ponggol dengan jembatan di atasnya tidak mengalami perubahan hingga waktu yang lama. Pada tahun 1982, Pemerintah Republik Indonesia mulai membenahi terusan ini mengingat fungsinya yang sangat berguna bagi aktivitas perekonomian masyarakat Samosir dan sekitarnya. Terusan Tano Ponggol dikeruk kembali untuk memperluas lebarnya dan membangun jembatan yang lebih baik. Pada tahun 2019, pemerintah melakukan rekonstruksi Terusan Tano Ponggol dan jembatannya. Terusan Tano Ponggol diperlebar menjadi 80 meter, panjang 1,2 kilometer, dan kedalamannya ditingkatkan dari 3 meter menjadi 8 meter. Melalui perbaikan ini, kapal pesiar diharapkan dapat melintasi Terusan Tano Ponggol yang menghubungkan Samosir bagian Barat dan bagian Utara. Semoga terusan Tano Ponggol ini segera selesai dibangun karena satu-satunya masuk jalan darat masuk ke Pulau Samosir.