Tuktuk

deskripsi singkat

Tuktuk yang juga dikenal dengan nama Tuktuk Siadong adalah salah satu desa di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Tuktuk Siadong memiliki bentuk menyerupai semenanjung yang terletak di sebelah Timur Pulau Samosir. Dinamakan “tuktuk” karena kontur alamnya yang didominasi bebatuan dan bebatuan itu mengeluarkan bunyi "tuktuk" jika dipukul ombak. Secara geografis, lokasi Tuktuk sangat strategis yang terletak di antara Tomok dan Ambarita. Begitu memasuki pintu masuk Tuktuk, pemandangan alam langsung menyambut pengunjung. Birunya air Danau Toba, pegunungan yang bergulung-gulung berpadu, dan jalan yang berkelok-kelok melengkapi pemandangan sekitar Tuktuk yang indah. Salah satu bukit Tuktuk yang terkenal adalah Bukit Beta. Bukit Beta adalah salah satu destinasi yang paling populer bagi pengunjung Tuktuk. Tuktuk dikenal dengan udaranya yang sejuk. Tuktuk memiliki luas daratan 340 hektar dan perairan (danau) seluas 410 hektar. Di samping kegiatan wisata bahari (danau), kegiatan wisata utama Tuktuk lainnya adalah bersepeda. Sejak tahun 1980-an, Tuktuk sudah dikenal wisatawan. Masyarakat setempat awalnya melihat potensi Tuktuk sebagai titik lintas batas masyarakat dari Parapat hingga Tomok. Karena itu, banyak orang membuka toko anggur, restoran, dan kafe. Seiring berjalannya waktu, Tuktuk menjadi semakin populer dan tidak lagi hanya sekedar tempat singgah. Pada tahun 1990-an, Tuktuk menjadi salah satu pusat kunjungan wisatawan di Pulau Samosir. Banyak wisatawan asing memilih untuk tinggal di Tuktuk dalam waktu yang relatif lama. Di Tuktuk juga tersedia akomodasi dan penginapan seperti hotel, bungalow, dan homestay. Namun, karena krisis mata uang pada tahun 1997, industri pariwisata di Tuktuk dan Danau Toba pada saat itu meredup. Tuktuk kembali bersinar setelah diresmikan menjadi destinasi wisata utama di Pulau Samosir oleh Gubernur Sumatera Utara T. Rizal Nurdin. Saat ini, Tuktuk terkenal dengan banyak tempat hiburannya seperti kafe, bar, warung kuliner, dan restoran. Tuktuk juga dikenal sebagai pusat toko suvenir dan “surga” makanan khas Batak Toba. Di sana wisatawan dengan mudah menemukan berbagai makanan khas Batak Toba seperti saksang, panggang, arsik, naniura, dan ayam napinadar. Selain masakan khas Batak Toba, Tuktuk juga memiliki banyak restoran halal yang menyediakan makanan nasional untuk wisatawan muslim. Mayoritas penduduk di Tuktuk beragama Katolik dan Protestan. Mata pencaharian masyarakat di Tuktuk adalah bertani, berdagang, nelayan, karyawan, pengrajin, dan sebagai pendamping wisatawan. Menurut data penduduk tahun 2018, jumlah penduduk Tuktuk sebanyak 712 jiwa.

Aspek geologi memperlihatkan bentang alam kubah lava rio-dasitan yang sebagian tertutupi oleh endapan danau (atas) dan singkapan lava rio-dasitan berstruktur flow-banding (bawah). Batuan ini dipergunakan sebagai bahan bangunan situs Batu Parsidangan Huta Siallagan. Seri endapan danau yang terdapat di sekitar Tomok, pada singkapan ini terdapat arang kayu (charcoal) yang berumur 25.000 tahun
Aspek Biologi di daerah ini memperlihatkan banyaknya mangga di wilayah di geosite ini sebagaimana pada umumnya di Kabupaten Samosir, denegan jenis lebih didominasi oleh mangga jenis udang. Meskipun ukurannya kecil, tetapi citra rasanya cukup berbeda dibandingkan mangga jenis lain, yakni terasa sedikit masam, tetapi manisnya lebih dominan.
Aspek budaya memperlihatkan salah satu bentuk peninggalan sejarah berupa kampung budaya Huta Raja Sillagan di Ambarita dan Kampung Sidabutar dengan tarian sigalegale ‘tari patung’ di Tomok. Sebuah kampung dengan luas 2.400 meter persegi ini dikelilingi oleh tembok setinggi 1,5 hingga 2 meter yang tersusun dari bebatuan alami yang didalamnya banyak berisi rumah adat Batak serta peninggalan sejarah Raja Sillagan di Ambarita serta tipe kampung yang mirip di Tomok dengan adanya legenda kekerabatan dari Makam Sidabutar di Tomok. Budaya baru yang bernuansa kepariwisataan telah lama tumbuh di Tuktuk.
Kembali