LAMPUNG CYBER TEAM
Sibaganding
Tidak begitu jauh dari Parapat, ada Sibaganding, sebuah desa besejarah yang di sekitarnya secaara kultural menyimpan berbagai kebergaman hayati dan legenda yang menarik seperti legenda Batu Gantung. Legenda Batu Gantung memiliki topografi batu seperti manusia tergantung. Batu Gantung itu sering menjadi objek wisata yang dapat dilihat dari Danau Toba dengan naik kapal dari Parapat. Konon Batu Gantung dipercaya sebagai penjelmaan seorang gadis cantik yang bunuh diri dengan melompat ke jurang, tetapi rambutnya tersangkut sehingga tergantung dan menjelma menjadi batu. Gadis cantik itu memutuskan bunuh diri karena dipaksa menikah dengan anak namboru ‘bibi’ yang tidak disukainya. Sibaganding adalah sebuah nagori di kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupten Simalungun yang sangat dekat dari kota wisata Parapat. Sibaganding merupakan tempat tinggal keluarga dan mayoritas marga yang bertempat tinggal di Nagori Sibaganding adalah marga Sinaga. Daerah Sibaganding secara biologis memiliki hutan yang luas dengan berbagai jenis hewan yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Dalam kawasan hutan yang luas itu dihuni oleh habitat monyet-monyet liar yang menjadi satu destinasi wisata yang berpotensi meningkatkan daya kunjung wisatawan. Salah satu destinasi yang meningkatkan pariwisata adalah Monkey Forest di Geosite Sibaganding. Sibaganding menjadi primadona bagi wisatawan yang singgah melihat atraksi memberi makan secara langsung kera, siamang, dan juga beruk. Taman Wisata Kera ini setiap bulannya ramai dikunjungi wisatawan. Masyarakat menjadikan Taman Wisata Kera sebagai destinasi wisata lain sebelum menuju ke Kota Wisata Parapat. Di hutan Sibaganding ini ada kesempatan wisatawan untuk memberi makan monyet-monyet tersebut. Cara memberi makan hewan hewan tersebut sangatlah unik, yakni pawang akan memanggil kera dengan menggunakan alat terompet yang terbuat dari tanduk kerbau. Suara terompet itu kemudian menggema di seluruh hutan. Tak lama kemudian, dari balik pepohonan muncul kera-kera liar seolah menjawab panggilan sang pawang. Ratusan ekor kera pun segera menuruni daerah perbukitan, siap menerima makanan dari sang pawang Berbagai makanan kesukaan monyet-monyet pun digelar. Begitulah keseharian, sang pawang melindungi “para sahabatnya” itu dari kepunahan. Atraksi memberi makan oleh sang pawang dapat dilihat langsung oleh wisatawan sebelum mengunjungi Danau Toba Parapat. Panorama bentang alam satuan batu gamping Formasi Sibaganding yang berumur Mesozoik (250 juta) tahun yang lalu terletak di tepi timur Danau Toba, tepatnya pada ruas jalan lintas Parapat-Medan, tersusun oleh batu gamping packstone, glokonitik grainstone, perselingan batu lumpur – batu pasir dan konglomerat (di sebelah kiri) dan aspek karstifikasi dari batu gamping yang teramati dari arah Danau Toba, yang dikenal sebagai “batu gantung” (di sebekah kanan). Parapat sebagai kota yang sekaligus jalan masuk ke Pulau Samosir dan Sibaganding sebagai lintasan ke arah kota Medan di pinggir Danau Toba merupakan satu geosite di Kaldera Toba yang disebut Geosite Parapat – Sibaganding.