Batu Hoda

deskripsi singkat

Batu Hoda merupakan salah satu destinasi utama di Pulau Samosir. Destinasi Batu Hoda berupa pinggiran Danau Toba yang saat itu sering disebut Pantai Batu Hoda. Pantai Batu Hoda terletak di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Pantai Batu Hoda terkenal dengan panorama alamnya yang memukau, yang memadukan birunya air Danau Toba dengan pantai pasir putih di tepi danau. Hal ini, membuat Pantai Batu Hoda semakin dikenal publik adalah legendanya. Kisah ini tentang kesetiaan seekor kuda betina yang menunggu pasangannya di tempat itu. Menurut legenda, ada seekor kuda betina terdampar di pantai. Dia menunggu pasangannya. Setelah menunggu lama, pasangannya tidak kunjung datang. Untuk membuktikan kesetiaannya, kuda itu berubah menjadi batu dan menghiasi pantai. Hingga saat ini, masih banyak batu yang menyerupai jejak kaki kuda di Pantai Batu Horda. Beberapa batu besar juga berbentuk kuda. Untuk mengenang cerita lisan tersebut, pemerintah setempat juga membuat prototipe patung kuda betina hitam di sebuah objek wisata. Secara harfiah, hoda berarti ‘kuda’. Oleh karena itu, Pantai Batu Hoda dapat diartikan sebagai Pantai Batu Kuda. Ada banyak simbol pada kuda dalam budaya Batak Toba. Selain sebagai simbol kesetiaan, juga dimaknai sebagai simbol kebesaran. Dimaknai sebagai lambang kesetiaan, karena di masa lalu kuda menjadi tunggangan setia bagi orang yang menjual barang dagangannya. Dimaknai sebagai lambang kebesaran, karena kuda ini merupakan hadiah yang biasa diberikan kepada Raja Batak di masa lalu. Kuda-kuda yang diberikan biasanya berwarna putih atau disebut sihapas pili. Kuda putih ini juga merupakan kuda yang ditunggangi Raja Sisingamangaraja XII saat menentang penjajahan Belanda di tanah Batak pada abad ke-19. Di Tanah Batak (tidak hanya di Samosir), kita masih bisa menemukan kuda yang sedang merumput. Beberapa di antaranya memang sengaja dibiarkan oleh masyarakat, namun ada juga yang ditambatkan. Kuda di Tanah Batak lebih kecil daripada kuda Sumbawa. Masyarakat di sekitar Pantai Batu Hoda mencari nafkah dari pertanian, perikanan, dan perdagangan, dan ada juga yang menjadi karyawan. Namun, ketika destinasi wisata ini sudah mulai berkembang, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, masyarakat sekitar juga sudah memasuki bidang jasa pariwisata. Meski begitu, bukan berarti mereka akan meninggalkan profesi lamanya, terutama para wisatawan yang biasanya hanya datang ke Pantai Batu Hoda pada hari-hari tertentu.